Ragam alasan pemudik di balik popularitas kereta api

Jakarta (ANTARA) - Area lobi keberangkatan Stasiun Gambir, Jakarta Pusat pada Sabtu petang dipadati oleh pemudik yang hendak bertolak dari ibukota ke daerah tujuan masing-masing guna merayakan Idul Fitri 1440 Hijriah bersama sanak saudara di kampung halaman.Kebanyakan dari para pemudik terlihat memboyong berbagai macam barang bawaan, mulai dari koper-koper besar, kardus-kardus yang ditutup rapat menggunakan lakban, hingga kantong plastik berisikan penganan yang hanya dapat dijumpai di Jakarta.Puncak aktivitas arus mudik Stasiun Gambir diperkirakan terjadi pada hari ini, mengingat jumlah penumpang yang meninggalkan Jakarta melalui Gambir telah mencapai lebih dari 22.000 orang. “Lonjakan penumpang terbanyak memang hari ini (Sabtu). Sampai tadi siang itu ada 22.233 (penumpang). Dibandingkan kemarin memang hari ini lebih banyak,” kata Kepala Stasiun Gambir Rizki Afrida.Meski harus berdesakan dengan penumpang lain, para pemudik tampak tetap bersemangat untuk kembali ke kampung halaman. Panjangnya perjalanan dengan kereta api yang menunggu di depan mata tak memadamkan semangat untuk berkumpul kembali bersama sanak saudara.Salah satunya adalah Joko (50), pria asal Surabaya yang telah menetap di Jakarta bersama istri, anak, serta keponakannya.“Hari ini mau mudik ke Surabaya naik kereta. Liburnya baru tanggal 31 kemarin jadi baru bisa pulang hari ini,” kata Joko saat dijumpai di dalam area tunggu kereta.Menurut dia, mudik ke kampung halaman menggunakan kereta sudah menjadi tradisi dalam kehidupannya, sehingga ia tidak pernah berpikir untuk menggunakan moda transportasi lain pada masa libur Lebaran.“Naik kereta sudah dari dulu. Dari anak-anak saya kecil,” kenangnya.Oleh karena itu, Joko dan keluarganya telah membeli tiket kereta dari jauh-jauh hari untuk memastikan ia tidak kehabisan tiket. Tiga bulan yang lalu, dia memutuskan untuk membeli tiket tersebut.“Dapat harga Rp500.000, menurut saya tidak terlalu mahal, cukup standar,” katanya.Pernyataan senada dikatakan oleh Merlin (28) yang hendak berangkat ke Bandung dari Stasiun Gambir. Dia mendapatkan tiket berangkat seharga Rp165.000 untuk kelas eksekutif dan menurut dia, harga itu cukup masuk akal.“Sebenarnya saya biasa naik ekonomi. Tapi karena kereta tambahan ini adanya hanya eksekutif saja, saya putuskan untuk beli. Kata teman-teman saya yang biasa naik eksekutif harganya memang biasanya segitu,” jelas Merlin.Meski tak ikut merayakan hari raya Idul Fitri, Merlin memanfaatkan momen liburan ini untuk kembali berkumpul bersama keluarga dan teman-teman di Bandung. Ia pun menyadari bahwa pada masa arus mudik, jalur darat pasti akan dipenuhi oleh kendaraan pribadi dan angkutan darat lainnya, sehingga dia memilih untuk naik kereta.“Saya memang tidak pernah naik layanan travel lagi karena tidak bisa ditebak kemacetan di jalurnya. Jadi saya lebih memilih naik kereta,” kata Merlin. Seorang pemudik menunggu waktu keberangkatan kereta di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Sabtu (1/6/2019). (ANTARA/Aria Cindyara) Sementara itu, bagi Saras (29), moda kereta api merupakan pilihan terbaik untuk menyambangi suaminya yang tengah merantau di Surabaya.Tak hanya masalah harga, Saras mengaku tidak berani naik pesawat seorang diri, sehingga ia lebih memilih untuk menggunakan kereta api, meski waktu yang ditempuh lebih lama.“Saya takut kalau naik pesawat sendiri. Kalau naik kereta walau lama tapi merasa lebih aman dan nyaman. Saya takut ketinggian, apalagi kalau sendiri,” ujarnya.Moda transportasi kereta api menjadi pilihan yang populer bagi mereka yang akan mudik ke kampung halaman dan merayakan hari raya bersama sanak saudara.Hingga hari Sabtu, Stasiun Gambir telah memberangkatkan 132.339 penumpang, terhitung dari awal masa angkutan Lebaran yakni tanggal 26 Mei.  Seorang petugas sedang memeriksa tiket kereta api penumpang mudik di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Sabtu (1/6/2019). (ANTARA/Aria Cindyara) Pada 1 Juni, yang diprediksi akan menjadi puncak aktivitas arus mudik Stasiun Gambir, angka penumpang mencapai 22.233, sementara pada hari sebelumnya tanggal 31 Mei, volume penumpang mencapai 21.895 penumpang.Pada tanggal 30 Mei, jumlah penumpang tercatat sebesar 20.453 orang dan pada tanggal 29 Mei, jumlah tersebut mencapai 20.824 penumpang.Secara keseluruhan, prediksi total penumpang selama masa angkutan lebaran 2019 adalah sebesar 997.730 orang, atau meningkat 9 persen dibanding tahun 2018 dengan 915.540 penumpang.Untuk mengantisipasi lonjakan penumpang, PT KAI telah menambah armada kereta yang beroperasi dari Stasiun Gambir, termasuk 32 kereta api reguler, 12 kereta tambahan serta 2 kereta tambahan ekstra.Sejumlah fasilitas penunjang di area stasiun juga dipersiapkan untuk masa libur lebaran, seperti 12 unit mesin check in, tujuh unit mesin tiket, dan dua unit lift di sisi utara stasiun.Terdapat pula satu ruang menyusui, empat musholla terpisah bagi laki-laki dan perempuan, satu pos kesehatan, serta 15 toilet pria dan 17 toilet wanita.Fasilitas yang banyak dikunjungi oleh par

Ragam alasan pemudik di balik popularitas kereta api

Jakarta (ANTARA) - Area lobi keberangkatan Stasiun Gambir, Jakarta Pusat pada Sabtu petang dipadati oleh pemudik yang hendak bertolak dari ibukota ke daerah tujuan masing-masing guna merayakan Idul Fitri 1440 Hijriah bersama sanak saudara di kampung halaman.

Kebanyakan dari para pemudik terlihat memboyong berbagai macam barang bawaan, mulai dari koper-koper besar, kardus-kardus yang ditutup rapat menggunakan lakban, hingga kantong plastik berisikan penganan yang hanya dapat dijumpai di Jakarta.

Puncak aktivitas arus mudik Stasiun Gambir diperkirakan terjadi pada hari ini, mengingat jumlah penumpang yang meninggalkan Jakarta melalui Gambir telah mencapai lebih dari 22.000 orang.

“Lonjakan penumpang terbanyak memang hari ini (Sabtu). Sampai tadi siang itu ada 22.233 (penumpang). Dibandingkan kemarin memang hari ini lebih banyak,” kata Kepala Stasiun Gambir Rizki Afrida.

Meski harus berdesakan dengan penumpang lain, para pemudik tampak tetap bersemangat untuk kembali ke kampung halaman. Panjangnya perjalanan dengan kereta api yang menunggu di depan mata tak memadamkan semangat untuk berkumpul kembali bersama sanak saudara.

Salah satunya adalah Joko (50), pria asal Surabaya yang telah menetap di Jakarta bersama istri, anak, serta keponakannya.

“Hari ini mau mudik ke Surabaya naik kereta. Liburnya baru tanggal 31 kemarin jadi baru bisa pulang hari ini,” kata Joko saat dijumpai di dalam area tunggu kereta.

Menurut dia, mudik ke kampung halaman menggunakan kereta sudah menjadi tradisi dalam kehidupannya, sehingga ia tidak pernah berpikir untuk menggunakan moda transportasi lain pada masa libur Lebaran.

“Naik kereta sudah dari dulu. Dari anak-anak saya kecil,” kenangnya.

Oleh karena itu, Joko dan keluarganya telah membeli tiket kereta dari jauh-jauh hari untuk memastikan ia tidak kehabisan tiket. Tiga bulan yang lalu, dia memutuskan untuk membeli tiket tersebut.

“Dapat harga Rp500.000, menurut saya tidak terlalu mahal, cukup standar,” katanya.

Pernyataan senada dikatakan oleh Merlin (28) yang hendak berangkat ke Bandung dari Stasiun Gambir. Dia mendapatkan tiket berangkat seharga Rp165.000 untuk kelas eksekutif dan menurut dia, harga itu cukup masuk akal.

“Sebenarnya saya biasa naik ekonomi. Tapi karena kereta tambahan ini adanya hanya eksekutif saja, saya putuskan untuk beli. Kata teman-teman saya yang biasa naik eksekutif harganya memang biasanya segitu,” jelas Merlin.

Meski tak ikut merayakan hari raya Idul Fitri, Merlin memanfaatkan momen liburan ini untuk kembali berkumpul bersama keluarga dan teman-teman di Bandung. Ia pun menyadari bahwa pada masa arus mudik, jalur darat pasti akan dipenuhi oleh kendaraan pribadi dan angkutan darat lainnya, sehingga dia memilih untuk naik kereta.

“Saya memang tidak pernah naik layanan travel lagi karena tidak bisa ditebak kemacetan di jalurnya. Jadi saya lebih memilih naik kereta,” kata Merlin.

Seorang pemudik menunggu waktu keberangkatan kereta di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Sabtu (1/6/2019). (ANTARA/Aria Cindyara)

Sementara itu, bagi Saras (29), moda kereta api merupakan pilihan terbaik untuk menyambangi suaminya yang tengah merantau di Surabaya.

Tak hanya masalah harga, Saras mengaku tidak berani naik pesawat seorang diri, sehingga ia lebih memilih untuk menggunakan kereta api, meski waktu yang ditempuh lebih lama.

“Saya takut kalau naik pesawat sendiri. Kalau naik kereta walau lama tapi merasa lebih aman dan nyaman. Saya takut ketinggian, apalagi kalau sendiri,” ujarnya.

Moda transportasi kereta api menjadi pilihan yang populer bagi mereka yang akan mudik ke kampung halaman dan merayakan hari raya bersama sanak saudara.

Hingga hari Sabtu, Stasiun Gambir telah memberangkatkan 132.339 penumpang, terhitung dari awal masa angkutan Lebaran yakni tanggal 26 Mei.
 

Seorang petugas sedang memeriksa tiket kereta api penumpang mudik di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Sabtu (1/6/2019). (ANTARA/Aria Cindyara)

Pada 1 Juni, yang diprediksi akan menjadi puncak aktivitas arus mudik Stasiun Gambir, angka penumpang mencapai 22.233, sementara pada hari sebelumnya tanggal 31 Mei, volume penumpang mencapai 21.895 penumpang.

Pada tanggal 30 Mei, jumlah penumpang tercatat sebesar 20.453 orang dan pada tanggal 29 Mei, jumlah tersebut mencapai 20.824 penumpang.

Secara keseluruhan, prediksi total penumpang selama masa angkutan lebaran 2019 adalah sebesar 997.730 orang, atau meningkat 9 persen dibanding tahun 2018 dengan 915.540 penumpang.

Untuk mengantisipasi lonjakan penumpang, PT KAI telah menambah armada kereta yang beroperasi dari Stasiun Gambir, termasuk 32 kereta api reguler, 12 kereta tambahan serta 2 kereta tambahan ekstra.

Sejumlah fasilitas penunjang di area stasiun juga dipersiapkan untuk masa libur lebaran, seperti 12 unit mesin check in, tujuh unit mesin tiket, dan dua unit lift di sisi utara stasiun.

Terdapat pula satu ruang menyusui, empat musholla terpisah bagi laki-laki dan perempuan, satu pos kesehatan, serta 15 toilet pria dan 17 toilet wanita.

Fasilitas yang banyak dikunjungi oleh para penumpang adalah tamn bernuansa alam yang baru-baru ini dibuka di lantai dasar stasiun. Selain itu, arena bermain anak-anak juga membantu para pemudik yang membawa anak kecil. Lokasi kedua fasilitas yang bersebelahan juga membuat para orang tua dapat bersantai sejenak di area taman, sementara anak-anak bermain di arena tersebut.

Jumlah penumpang yang terus meningkat dan fasilitas yang menunjang membuat mudik menggunakan kereta api menjadi pilihan bagi banyak orang. Para pemudik berharap agar fasilitas dan operasional yang baik dapat terus dipertahankan dan diperbaiki lagi ke depannya.

Baca juga: Jumlah pemudik di Stasiun Gambir melonjak, puncaknya bisa hari ini

Baca juga: Pemudik di Stasiun Gambir kenang sosok Ani Yudhoyono

Baca juga: Pemudik sampai Jumat malam padati Stasiun Gambir

Let's block ads! (Why?)