BI yakin rupiah kuat dan stabil, meski dibayangi jatuhnya harga minyak

Kami yakini secara tren, secara fundamental, nilai tukar rupiah itu undervalue. Dengan berbagai indikator, kami yakini (rupiah) akan bergerak menguatJakarta (ANTARA) - Bank Indonesia meyakini nilai tukar rupiah bergerak stabil dan menguat mengarah...

BI yakin rupiah kuat dan stabil, meski dibayangi jatuhnya harga minyak

Kami yakini secara tren, secara fundamental, nilai tukar rupiah itu undervalue. Dengan berbagai indikator, kami yakini (rupiah) akan bergerak menguat

Jakarta (ANTARA) - Bank Indonesia meyakini nilai tukar rupiah bergerak stabil dan menguat mengarah Rp15.000 hingga akhir tahun 2020, meski harga minyak dunia jatuh karena secara fundamental indikator ekonomi RI lebih kuat.

“Kami yakini secara tren, secara fundamental, nilai tukar rupiah itu undervalue. Dengan berbagai indikator, kami yakini (rupiah) akan bergerak menguat,” kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam jumpa pers daring di Jakarta, Rabu.

Menurut Gubernur Bank Indonesia itu, pergerakan nilai tukar rupiah dipengaruhi faktor fundamental dan teknis. Adapun secara fundamental, lanjut dia, nilai tukar rupiah saat ini termasuk undervalue yang ditunjukkan dengan tingkat inflasi rendah.

Baca juga: Rupiah Rabu pagi melemah 62 poin

Selain karena inflasi, kata dia, juga ditunjukkan dengan defisit transaksi berjalan (CAD) yang diperkirakan akan lebih rendah.

Perry Warjiyo menjelaskan pada triwulan pertama tahun ini CAD diperkirakan lebih rendah 1,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Secara keseluruhan tahun ini, lanjut dia, CAD diperkirakan terkendali yakni tidak sampai 2 persen dari PDB atau lebih rendah dari perkiraan sebelumnya 2,5-3 persen dari PDB.

Sedangkan secara teknis, memang mempengaruhi nilai tukar rupiah dari hari ke hari,  namun Perry Warjiyo menyebut dalam jangka pendek salah satunya dipengaruhi harga minyak dunia yang saat ini anjlok.

Baca juga: Rupiah Selasa pagi jatuh 87 poin

Anjloknya harga minyak dunia dipengaruhi wabah COVID-19 dan sebelumnya juga anjlok dipicu perselisihan antara Arab Saudi dan Rusia terkait pemangkasan produksi minyak.

Selain karena harga minyak, faktor teknis yang mempengaruhi nilai tukar rupiah adalah persoalan geopolitik.

Meski begitu, kata Gubernur Bank Indonesia itu, tidak semua faktor teknis membawa dampak buruk bagi rupiah, tapi juga membawa dampak positif baik dari global maupun dalam negeri.

Secara global pembukaan masa karantina wilayah atau lockdown di beberapa kota di Amerika Serikat dan dari sisi dalam negeri, terkait Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mengatasi COVID-19 juga memberikan dampak baik kepada pergerakan rupiah.

Selain rupiah, lanjut dia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) juga tidak selalu mengikuti perkembangan luar negeri.

“Hari ini IHSG Indonesia naik, bahkan naik level 4.570 berarti naik 68 poin. Ini menunjukkan investor domestik juga melihat perkembangan positif, sehingga apa yang terjadi di global tidak selalu diikuti di dalam negeri,” katanya.

Baca juga: Gubernur BI: Rupiah terus menguat, tunjukan kepercayaan pasar
 

Pewarta: Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Let's block ads! (Why?)